UCL Kami Datang

Sabtu 12 Mei 2018.
Sesaat setelah Rosario Abisso meniup peluit panjangnya di Giuseppe Meazza dan papan skor menunjukan skor 1-2 untuk tim tamu, banyak dari Interisti yang akhirnya dipaksa harus kembali menjejak bumi. Harapan yang di turunkan dari meraih scudetto menjadi sekedar lolos ke Liga Champions musim depan pun persis berhenti di depan gerbang besar berhiaskan mural kelam bernama kegagalan. Puasa absen di ajang Liga Champions sepertinya harus diperpanjang mengingat secercah peluang yang tersisa kini bergantung kepada tim lain. Di titik ini, harapan Interisti tak ubahnya korek gas yang nyaris tanpa cairan bahan bakar. Butuh berkali kali ibu jari memutar roda pemantik agar apinya bisa menyala, itu pun dengan api yang sangat kecil, goyah dan rawan untuk tiba tiba mati sebelum menjadi berguna.

Minggu 13 Mei 2018.
Di stadion Ezio Scida di Provinsi Crotone, tim tuan rumah yang dilatih eks kiper legendaris Inter menghadapi pesaing terdekat Inter dalam meraih tiket terakhir menuju Liga Champions. Walter Zenga dan timnya bertanding di iringi bantuan tak kasat mata berupa doa segenap Interisti yang jumlahnya berkali kali lipat dari kapasitas stadion itu sendiri. 90 menit berlalu, skor imbang 2-2 memaksa Lazio menunda pesta perayaan lolos ke Liga Champions hingga ke pekan terakhir. Bagi Interisti, hasil 2-2 itu layak disyukuri karena berarti masih ada secuil peluang untuk lolos ke Liga Champions meski dengan syarat yang tidak bisa ditawar, harus menang melawan Lazio di Olimpico. Minggu malam itu, harapan Inter dan Interisti seperti lilin sisa pakai dari mati lampu di waktu lalu. Tetap bisa menyala meski tidak utuh. Nyala apinya terang, namun bisa dengan cepat meleleh habis lalu kemudian padam.

20 Mei 2018 waktu Italia.
Stadion Olimpico tergolong lebih ramai ketimbang biasanya. Lazio vs Inter. Laga pamungkas musim 2017-2018 sekaligus penentu tim mana yang akan lolos ke Liga Champions yang di idamkan oleh masing-masing suporter kedua tim. Laga berjalan dengan tempo tinggi sejak menit awal. Lazio dan Inter sama sama berupaya mencetak gol cepat. Peluang Lazio hadir dari skema serangan yang cukup rapi meski penyelesaiannya belum sempurna. Sementara itu, peluang pertama Inter hadir dari sepakan jarak jauh asal-asalan dari kaki Antonio Candreva. Sekedar info, sepakan jarak jauh Candreva yang berbuah gol di derby Milan beberapa waktu di masa lalu itu nyaris masuk ke 7 kejadian langka di sepakbola Italia versi on the spot. Jadi, jika di Olimpico dan di kemudian hari nanti kita melihat Candreva akan melepaskan tembakan jarak jauh lagi, sebaiknya jangan berekspektasi terlalu tinggi, karena hasilnya bisa di pastikan bukan gol yang tercipta melainkan hanya sekedar membuat sibuk ball boy di belakang gawang lawan. Memasuki menit ke 9, SMS (Sergej Milinkovic Savic) menerima bola dengan dada di dalam kotak penalti Inter. Dengan segera ia menyodorkan bola yang langsung di sepak dengan keras oleh Adam Marusic. Sepakan Marusic sialnya justru membentur wajah Perisic yang otomatis membelokan arah bola dan mengelabui Handanovic yang tampak hanya mampu terperangah. 1-0 Lazio unggul. 20 menit berselang, dari sepak pojok, Brozovic mengirim umpan ke tiang jauh yang dengan segera disambar oleh D’Ambrosio dengan cukup beringas. Inter berhasil menyamakan kedudukan. Tak perlu dengan gol cantik, elok, rupawan, menawan hati atau apapun lah namanya. Yang penting gol dan pertandingan pasti akan lebih menarik setelah ini.
Memasuki menit ke 40, secara kilat serangan balik Lazio langsung memasuki wilayah Inter. Senad Lulic yang menguasai bola, dengan cerdas melepaskan umpan terobosan ke ruang kosong di antara D’Ambrosio dan Miranda. Felipe Anderson yang berhasil menyelinap masuk menerima bola untuk kemudian melepaskan tembakan menyusur tanah ke tiang jauh yang lagi-lagi hanya mampu di pandangi oleh Samir Handanovic. 2-1 Lazio kembali unggul. Api harapan yang menyala di atas lilin tidak utuh tiba tiba bergoyang keras. Lelehan lilin deras mengalir menandakan api harapan itu bisa padam lebih cepat dari yang seharusnya. Skor 2-1 bertahan hingga turun minum. Tersisa 45 menit untuk bisa mengetahui tim mana yang akan menggenapi 4 tim wakil Italia di ajang paling bergengsi dan berduit antar klub Eropa. Babak kedua dimulai dengan tempo yang lamban. Lazio yang sedang unggul, terlihat lebih berhati-hati dalam membangun serangan. Di sisi lain, Inter mencoba keluar dari tekanan agar bisa memberikan tekanan balik untuk tim tuan rumah. Selepas satu jam pertandingan berjalan, Spaletti melakukan perubahan komposisi pemain. Candreva dan Rafinha ditarik untuk memberikan kesempatan kepada Eder dan Karamoh berkontribusi di sisa waktu yang ada. Simone Inzaghi pun sepertinya cukup puas dengan skor 2-1 dan berupaya mengamankan hasil tersebut dengan memasukan Jordan Lukaku dan Bastos. Kurang dari 5 menit selepas pergantian yang di lakukan Simone Inzaghi, Eder mengirim umpan dengan kepalanya kepada Icardi. Di dalam kotak penalti Lazio, Icardi mencoba mengelabui Stefan De Vrij yang malah jelas terlihat melakukan pelanggaran yang sulit di hindari. Penalti untuk Inter. Riuh suporter yang hadir di Olimpico mengiringi langkah eksekusi Icardi yang mampu mengecoh Strakosha, 2-2 dan masih ada 12 menit tersisa. Setelah bola kembali di mainkan dari pemain Lazio, sebuah insiden antara Senad Lulic dan Marcelo Brozovic mau tidak mau membuat Gianluca Rocchi mengganjar kartu kuning kedua untuk Lulic. Sebagai kapten tim, alih-alih mengangkat moral dan mental pemain Lazio lainnya, Lulic malah melakukan tindakan yang membuatnya mengendurkan tali sepatu lebih cepat dan secara otomatis meniupkan angin segar untuk 11 pemain Inter di lapangan. Di momen dimana langkah Lulic meninggalkan permadani hijau Olimpico, itulah momen dimana api harapan di lilin yang tidak utuh sepenuhnya berganti menjadi lilin baru yang ukurannya lebih besar, apinya lebih terang, stabil dan jauh dari kata mengkhawatirkan.

Menit 80, Inter kembali mendapatkan sepak pojok yang lagi lagi akan di lakukan oleh Brozovic. Umpan lambung Brozovic kali ini diarahkan ke tiang dekat dimana dengan cepat di sambar oleh Matias Vecino yang melakukan lompatan lebih awal dari pemain Lazio yang menjaganya. Gol..!!! Inter berbalik unggul 3-2. Adrenalin bercampur emosi Vecino beserta segenap pemain Inter pecah detik itu. Vecino membuka jerseynya dan berlari ke depan curva dimana suporter setia Inter bersorak gembira menyambut gol tersebut. Vecino tak lagi mempedulikan kartu kuning yang akan ia terima atas selebrasinya itu. Ia hanya ingin meluapkan kegembiraannya saat itu. Beban sebagai gelandang Inter yang harus bekerja keras menghadapi lini tengah Lazio yang berkualitas seolah ikut terbebas bersama jersey yang ia buka. Api harapan dari sebatang lilin baru seketika berkobar besar dengan pusat api di belakang gawang Lazio. Sepercik api harapan yang di simpan sendiri di tiap hati Interisti bertemu di satu momen yang akhirnya menggelorakan dari apa yang sebelumnya angan menjadi kenyataan. Tersisa 9 menit waktu normal pertandingan sebelum kenyataan di reguk dengan utuh tanpa gangguan.

Gianluca Rocchi akhirnya meniup peluit panjang tanda laga di Olimpico berakhir yang serta merta memberi jalan untuk kebahagian merasuki seluruh elemen tim Inter termasuk Interisti di seluruh semesta. Dahaga 6 tahun tanpa bermain di ajang Liga Champions akhirnya tuntas melalui sebuah perjalanan yang tidak mudah. Inter mengakhiri musim 2017-2018 di Serie A dengan menempati peringkat ke 4 setelah meraih 72 poin hasil dari 20x menang, 12x imbang dan menelan 6x kekalahan. Bukan catatan yang baik jika di musim depan Inter berambisi merusak dominasi Juventus. Tugas berat tak pernah berhenti untuk Spaletti agar mampu meningkatkan kualitas tim mengingat musim depan Inter akan lebih sering bermain ketimbang tim tetangga dan belasan tim lainnya. Musim 2017-2018 juga menjadi musim yang spesial untuk seorang Mauro Icardi yang berhasil menjadi pencetak gol terbanyak dengan 29 gol sejajar dengan Ciro Immobile. Yang menarik, dua pencetak gol terbanyak di Serie A justru akan absen di ajang terbesar sepakbola antar negara tahun ini yaitu Piala Dunia. Mauro Icardi kalah buncit ketimbang Higuain sehingga ia di tinggalkan Sampaoli meski mencetak gol lebih banyak, sementara Immobile berasal dari negara yang lupa daftar ikut Piala Dunia, eh maksudnya tidak lolos kualifikasi untuk ikut Piala Dunia.

Charles M. Schulz, seorang kartunis Amerika pernah berujar, “ Setumpuk kenangan buruk tak pernah setara dengan satu harapan kecil”. Interisti musim ini menjadi gambaran nyata dari kutipan tersebut. Kenangan buruk yang menumpuk sejak musim 2012-2013 dimana Inter gagal lolos ke Liga Champions, tidak memupuskan harapan kecil di tiap Serie A mulai bergulir untuk bisa melihat lagi Inter lolos ke Liga Champions. Dan ketika musim depan Inter kembali berkiprah di Liga Champions, akan muncul sebuah tanya, “ mampukah Inter menjuarai lagi Liga Champions???”. Ya mari berharap lagi. Perkara harapan itu kecil ataupun besar, setidaknya Interisti sudah mulai di bolehkan berharap untuk hal itu. Apalagi final Liga Champions 2019 akan di helat di kota Madrid yang jelas memiliki memori indah untuk para Interisti. Dan, akan sangat luar biasa jika Mauro Icardi bisa mengangkat trophy si Kuping Besar di stadion yang nama depannya seperti nama istrinya.

FORZA INTER… SEMPRE…!!!

Pram Ichanx

Menikmati sepakbola dari area yang terabaikan.

You May Also Like