Opa dan Kita Yang (katanya) Cinta…

Mari mengawali tulisan ini dengan kembali ke tanggal 18 Februari 1995. Hari itu, di kota Milan, seseorang berhasil memperoleh apa yang sebelumnya hanya di impikan. Sesuatu yang berlandaskan cinta berhasil menuntun Massimo Moratti memiliki apa yang di inginkannya. Ya, kala itu Massimo Moratti secara resmi mengambil alih Inter dari tangan Ernesto Pellegrini. Massimo Moratti yang saat itu telah memiliki 2 anak laki-laki dan 3 orang anak perempuan, rasanya cukup pantas di analogikan bila memiliki Inter saat itu seperti memiliki seorang anak perempuan lagi yang kelak akan memberi warna untuk sepakbola Italia dan tentu saja warna di kehidupan Massimo Moratti.

Di berbagai kajian psikologi tentang hubungan seorang ayah dan anak perempuannya, kita bisa dengan mudah menemukan banyak fakta bahwa hubungan tersebut sangat unik dan menarik. Ada beberapa fase yang saya pilih dalam kehidupan si anak perempuan yang secara otomatis mempengaruhi perilaku dan tindakan sang ayah.

Fase pertama : Sang anak perempuan tumbuh dan bersiap masuk sekolah untuk pertama kalinya.
Pada fase awal ini, disadari atau tidak, seorang ayah bisa menjadi dua sosok yang bertolak belakang namun tetap dalam raga yang sama. Si ayah cenderung menjadi sosok yang tetap diam nan berwibawa namun pada saat yang sama sisi over protektif seorang ayah kepada anak perempuannya bisa mencapai titik maksimal. Sosok ayah tidak ragu membelikan semua yang putrinya butuhkan agar tumbuh kembangnya bisa berjalan baik. Tapi di saat yang sama, sang ayah tidak ragu menyediakan waktu untuk berjalan mengiringi anak perempuannya ketika sedang belajar menaiki sepeda. Apa sang anak lantas terjatuh ketika sang ayah tidak mengiringi? Tentu saja tidak, sang ayah hanya tidak ingin dan tidak rela jika kayuhan anak perempuannya menghantam batu lalu mengganggu laju keseimbangan sang anak perempuannya. Begitu pula ketika sang anak perempuannya akan menjalani hari pertama masuk sekolah, hati sang ayah akan berkecamuk dan penuh tanya, “bagaimana bila teman-temannya nakal? Bagaimana bila guru menghardiknya? Bagaimana bila ia tak betah di sekolah?”. Hati sang ayah akan terus ketar-ketir sebelum putrinya pulang dari sekolah dengan senyum yang mengembang dan tidak kurang suatu apapun.
Begitu pula perjalanan Moratti saat menguasai Inter di awal kepemimpinannya. Ia tak ragu memberikan deretan pemain mahal dan berkualitas agar Inter tumbuh menjadi tim yang kuat. Moratti tak sungkan merogoh koceknya dalam-dalam demi bisa menjadikan Inter siap menjalani pertandingan demi pertandingan di berbagai ajang kompetisi. Soal apakah yang ia keluarkan akan sepadan dengan yang bakal ia dapatkan, Moratti tak ambil pusing. Ia hanya mau Inter sebagai “anak perempuan” nya menjelma menjadi anak yang tak hanya anggun namun juga tangguh.

Fase kedua : Sang anak akan mengikuti ujian kelulusan.
Tak ada seorangpun ayah yang ingin anak perempuannya mengalami kegagalan termasuk kegagalan dalam mengikuti ujian. Maka, untuk mengantisipasi hal tersebut, sang ayah akan mendatangkan guru-guru privat yang awalnya di yakini cukup pintar dan kompeten. Sang ayah juga mencari dan memilih langsung guru-guru mana saja yang layak ia boyong ke rumahnya untuk mengajari putrinya banyak hal agar sukses menjalani ujian dengan baik. Namun, hidup tak melulu soal keberhasilan dan Moratti pun mengalami kegagalan. 17 guru ia pernah datangkan untuk mengajari putrinya, namun tetap belum mampu membuat putrinya lulus dari satu mata pelajaran yang justru paling penting dan bergengsi. 17 pelatih dari berbagai latar belakang dan negara asal, pernah Moratti hadirkan untuk Inter namun masih saja ada 1 gelar yang selalu luput dari jangkauan. Lalu bertemulah Moratti dengan seorang arogan dari Portugal. Seorang pelatih yang kerap menghadirkan kehebohan lewat ucapan mulutnya. Seperti yang sudah-sudah, Moratti kali ini pun sangat yakin, guru privat yang ia datangkan kali ini tak hanya akan membuat putrinya pintar, namun juga lulus dengan nilai memuaskan.

Fase ketiga : Sang putri lulus dan di wisuda.
Menjelang hari ujian kelulusan mata pelajaran akhir putrinya, sang ayah sungguh tidak tenang. Tekanan tidak hanya menghampiri putrinya namun juga dirinya. Sang anak seringkali pulang dengan wajah yang sangat letih karena sehabis berlatih keras. Sang ayah juga takut jika guru privat putrinya kali ini mengulangi kegagalan guru-guru sebelumnya yang tidak berhasil menanamkan mental baja kepada putrinya. Dan tibalah hari ujian itu, anak perempuannya akhirnya berhasil lulus dengan sempurna. Sang anak berhasil menjadi juara meski ujiannya di selenggarakan di Spanyol. Ya, Inter akhirnya berhasil meraih gelar Liga Champions yang sangat di dambakan. Sang ayah menitikan air mata bahagia dalam diam ketika melihat putrinya di wisuda dan mengangkat piala. Penantian sang ayah dan segala pengorbanannya tuntas pada satu malam bersejarah yang mustahil di lupakan. Meski setelah pesta ini usai sang guru privat yang spesial akan pergi, sang ayah tetap merasakan kebahagian yang membuncah melihat anak perempuannya berkalung medali kemenangan.

 

Fase keempat : Sang putri menikah.
Di fase ini, sang ayah yang semakin tua, mulai merasa tak mampu lagi mengurusi dan memenuhi segala kebutuhan putrinya. Di saat yang sama, seorang pria dari negeri yang jauh mencoba mendekati putrinya dengan niat yang katanya baik. Sang ayah tak rela namun ia lebih tak rela melihat putrinya terjerembab makin dalam di masalah yang ia tak sanggup atasi. Maka, dengan berat hati dan pergulatan batin yang tak mudah, sang ayah menyetujui putrinya di persunting dan diurusi oleh orang lain. Sesaat setelah menyaksikan ijab qobul sang putri, sang ayah beranjak ke belakang panggung pelaminan. Ia membuka kacamatanya, dan membiarkan sungai air mata mengalir deras di pipinya. Sang ayah sudah berada pada titik dimana ia harus rela putrinya hidup dengan seorang pria lain. Sang ayah bersedih dalam kesendirian, meratapi betapa semua seperti berjalan terlalu cepat. Rasanya baru kemarin ia menuntun anaknya berjalan dan mengajarinya membaca buku cerita yang ia bawa sepulangnya bekerja, namun setelah hari ini, sang ayah tahu ada pria lain yang akan menuntun kehidupan putrinya dan sang ayah harus membiasakan diri jika nanti ketika ia pulang kerja, ia tak mendapati putrinya di rumah karena ia akan ikut tinggal bersama lelaki pilihannya.

Sepenggal kisah ilustrasi diatas berada di batas realitas antara fiksi atau nyata. Boleh di labeli fiksi karena Inter adalah sebuah klub, bukan seorang anak perempuan. Tapi segala yang telah Massimo Moratti perbuat untuk Inter adalah sebuah fakta yang tidak bisa di pungkiri. Lantas muncul pertanyaan mendasar, mengapa Moratti mau melakukan itu? Atau, hal apa sih yang membuat Moratti betah selama 18 tahun 9 bulan dan 27 hari mengurusi Inter? Jawaban dari kedua pertanyaan tadi pun bisa sangat mudah sekaligus rumit. Mudah karena semua orang pernah merasakannya, namun juga sulit karena tidak semua orang mampu menunjukannya dengan cara yang benar. Moratti datang ke Inter dengan dan membawa cinta, dan dengan kapasitas yang ia miliki kala itu, ia dengan tulus berbuat sesuatu untuk cintanya. Bisa di bayangkan bagaimana sumringah nya Moratti ketika ia pertama kali pulang kerumah dengan status sebagai presiden Inter. Jika anda seorang pria, apa anda masih mengingat bagaimana suasana hati anda ketika untuk pertama kalinya anda pulang ke rumah sehabis bertemu seseorang yang anda cintai? Atau jika anda seorang wanita, ingatkah selebar apa senyum malu di balik pintu sesaat ketika pria yang anda cintai beranjak pulang pada suatu sabtu malam yang indah? Ah, rasa bahagia memang bisa hadir lewat cara yang paling kompleks sekaligus paling remeh.

Saya seringkali mendengar atau membaca frasa “bukan soal sejak kapan tapi sampai kapan” dan saya sepenuhnya dengan kalimat itu. Dalam urusan cinta, memang lebih elok jika pembahasan seputar pengorbanan untuk cinta itu sendiri adalah soal seberapa lama dan seberapa sering daya dan upaya kita untuk berbuat sesuatu. Dari Massimo Moratti, kita seolah di ajarkan lewat teladan bahwa harus ada yang dikorbankan ketika menyebut kata cinta. Memang, masing- masing individu di batasi perbedaan tentang kemampuan bagaimana menunjukan pengorbanan untuk cinta, namun dari Moratti juga kita bisa melihat bahwasanya keterbatasan yang mungkin kita miliki bukanlah dinding tebal yang tak bisa di robohkan. Lalu dari sisi lain akan terlontar pertanyaan, “apa mereka yang tidak mau berkorban tidak boleh mencinta? Adakah larang untuk terus memelihara cinta tanpa perlu berkorban?”. Begini, disadari atau tidak, tanpa cinta dari kita yang berada ribuan kilometer dari kota Milan, Inter tetap akan ada dengan cinta serta pengorbanan dari belahan penjuru dunia lain. Inter tidak akan pernah kekurangan cinta dan pengorbanan karena akan selalu ada rombongan manusia yang dengan antusias datang ke Meazza. Akan selalu ada individu individu yang berjalan penuh percaya diri dengan balutan jersey biru hitam. Dan akan terus ada teriakan lantang dari curva bernada dukungan apapun kondisi yang Inter hadapi. Lantas, jika realitanya seperti itu, mengapa kita perlu berkorban untuk Inter? Karena ini semua soal kebanggaan. Tidak ada iming-iming hadiah apapun untuk pengorbanan yang kita perbuat untuk Inter, karena terkadang apa yang kita korbankan demi sesuatu yang kita cinta, tak melulu harus di ikuti dengan harapan apa yang nanti akan kita dapatkan. Mungkin, atas kenyataan semacam itulah seluruh umat di semesta ini bisa mengerti akan arti pengorbanan berbalut ketulusan.

Jadi, pengorbanan macam apa yang ingin anda perbuat untuk klub “Yang Tersayang”? Saya sih dengan cara yang paling sederhana. Mendaftar sebagai member resmi merupakan pengorbanan langkah awal yang sanggup saya lakukan. Pengorbanan dengan mendaftar sebagai member resmi hanyalah tetes-tetes embun diatas daun dipagi hari jika dibandingkan dengan guyuran derasnya hujan dukungan serta cinta bagi sebuah klub sebesar Inter. Tapi, bukankah dengan adanya tetes-tetes embun ketika pagi datang adalah pertanda bahwa bumi baik-baik saja dan kehidupan akan terus berjalan?
Entah dengan lirih atau lantang, parau atau merdu, Forza Inter yang terucap akan lebih berarti ketika kita mau berkorban untuk sesuatu yang (katanya) kita cinta.

Forza Inter. Sempre.

Pram Ichanx

Menikmati sepakbola dari area yang terabaikan.

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *